Wednesday, 8 July 2009

Al Fatihah to adik Hanis Suraya




6 Julai 2009 - The family of Mr. Muhammad Amri has been tested by Allah with the loss of their beloved eldest daughter, Hanis Suraya aged 12 at St. Mary Hospital, Paddington. When I came back to London, I visited them again at the same hospital that witnessed my mother in law's departure for Allah's invitation, around three weeks ago. It's not easy at all to be witnessing those who were elder than us being invited by Allah, it's even harder and greater to be told that those who are younger than us left earlier. Furthermore, it's their own daughter and only God Know how hard it is for them to contain and accept the fact. Al Marhumah Hanis Suraya has actually warded three weeks ago at St. Mary's Hospital, straight after she was caught suddenly collapsed. During this coma period, and whilst I was in Malaysia, Haji Zainal briefed me that the family has been well taken care by our great Malaysian community in London. The overflowed support received by them stands the quality and strength of our community. She passed away at 5.50 pm, 6th July peacefully. On the next day, together with Haji Zainal and Kak Nariman, we involved thoroughly in the process of the funeral management. Even the whole team of our defence officers were in action, along with the support from our High Comm colleagues. Again, My wife led the bathing and shrouding session in the present of Hanis's mother, as well as Kak Nariman and Kak Zaharah. I offered the father, Mr. Amri to lead the janazah prayer, but he insisted me to accomplish the session. I led the janazah prayer of around 20 of our Malaysians at Haji Taslim Funeral Services site at Pinchin Street. The janazah then was trasferred to Heathrow to be handed to Mas Cargo. The family flew off to Malaysia today for the funeral at their place in Johor Bahru. Let's pray to Allah for their safe journey and may Allah gives the strength to the parents and the families back in Malaysia. Al Fatihah

Monday, 6 July 2009

Seminggu yang terakhir bersamamu








14 Jun 2009 - Segalanya telah tertulis, segalanya hanya diketahui Allah Maha Perkasa, segalanya merupakan ketentuanNYA, pasti ada hikmahnya, pasti ada pengajarannya, pasti ada rahsianya. Bonda Hajjah Hazimah Yaacob telah pulang ke rahmatullah pada tengahari, tanggal ini ,14 Jun 2009. Pemergiannya benar-benar di hadapan mataku, adiknya, anak saudaranya, cucu-cucunya dan anak bongsunya, Anis Badiah. Pemergian dan perpindahan yang terlalu cepat, perpisahan yang terlalu mudah, terlalu lembut. Telah saya sempat ceritakan secara lisan kepada sahabat-sahabat di London berkaitan saat-saat terakhir al marhumah bersama kami, namun saya merasakan biarlah ianya tidak dituliskan di catatan kali ini.
She has actually gave us the signs, but nobody seems to pick up. truly, somehow, we were not given the strength and ability from Allah to understand the matter. at the time. The knowledge and signs are truly meant only to al Marhumah, only to her. It was only after she's gone, the signs came back to us and it was only then, we learned and we understand. My wife spent most of the time living away from her mother, started from the boarding school, then Jordan, and we're in KL after marriage. We've been told that al Marhumah really excited and wanted to visit us in London. With all her community obligations and routines at Machang, Kelantan, but this time, she insisted of coming to meet her youngest daughter, here in London. But nobody picked up the sign. Al Marhumah did mention one night that her condition this time is different, and her normal medicines and prescriptions wouldn't help. But nobody picked up. After spending a week with us, on that saturday night, the last day that al marhumah was with us, she told my wife...' sepatutnya mek maghi ni beli tiket sehala jah, hala kelik nanti, demo la beli ke saya...' which means, I should come here on a one way ticket (she has purchased a return ticket), and you're the one who will prepare my return ticket back to Malaysia...' . But nobody picked up and understand the matter as it should be. Softly my wife responded that the immigration normally would request a specific return tickets and the date has to be confirmed. Indeed, she's right. we're the one who purchased her return ticket back to Machang, Kelantan. Allah is Great. On the day itself, the sunday morning, my wife revealed later on that al Marhumah was really keen on going to visit a fruit farm. Unlike the typical al Marhumah, who was totally capable and independent in everything, and always get everything done by herself despite her disability condition, al Marhumah on that day just sat on her bed and didn't get ready by herself as usual. She even requested to wear my wife's tudung, blaus and kain. My wife described to me that when al marhumah was given the clothes, from her eyes, she noticed that al Marhumah continued sitting on her bed and do nothing. From the look, my wife seemed to get the impression that al Marhumah wanted to be dressed by her, by her youngest daughter. My wife then dressed al marhumah and al marhumah was really delighted and smile all the way. But nobody picked up the sign of the farewell. All these came back to us after she left for Allah's invitation. Allah is Great. It was exactly the scenario when my wife who led the bathing and shrouding her mother at Whitechapel Mosque.
Anis dapat mengisi minggu yang terakhir bersama ibu kesayangannya, bersembang hingga larut malam, berbicara di ruang tamu, di dapur, di bilik tidur, di rumah kami keseluruhannya. Seminggu yang terakhir ini sememangnya cukup berharga, kerana suasana sebegini sememangnya amat jarang kami rasa sejak sekian lama, atas faktor lokasi, tugas dan lain-lain. Di hadapan terlalu ramai hadirin yang menziarahi kami, saya nyatakan bahawa isteri saya seorang yang amat kuat dan tabah. Saya menghargai ketabahannya dalam mendahulukan redha qadha dan qadar Ilahi atas kesedihan peribadi, saya kagumi kekuatan hatinya memandikan, mengkafankan dan menguruskan jenazah bondanya.
Bermula seawal di St. Mary Hospital di Paddington, kami sefamili menerima bantuan yang begitu hebat dan tidak putus-putus daripada semua pihak. Bantuan yang datang dari segenap sudut amat kami hargai. We could never thank them enough for the support given. Dalam mengurus jenazah dan memastikan segala urusan berkaitan berjalan lancar, anak-anak kami dilayan oleh para sahabat seperti anak mereka sendiri, rumah kami diurus selia oleh para sahabat seperti rumah kesayangan mereka sendiri, kenderaan dan pengangkutan milik para sahabat kami sudah seakan menjadi kepunyaan kami ke sana sini hingga ke Heathrow di hari penerbangan pulang kami bersama jenazah untuk dikebumikan di tanahair, makan minum kami dan juadah setiap tetamu yang hadir juga tiada satu pun datangnya dari kami. Segalanya diurus oleh para ahli komuniti, yang bukan sekadar sahabat, malah mengatasi batasan keluarga dan waris. E mail, texts, phone calls dan bantuan yang tidak putus-putus dari segenap arah menjadikan kami semakin tabah. You guys are truly family. Saya dan famili amat menghargainya. Saya agak gusar untuk menyatakan nama mereka di sini, risau andai ada nama yang tercicir, kerana terlalu ramai yang terlibat menyumbang, membantu dan menolong tanpa ada sebarang pita merah dan mengharapkan perekodan. but you guys know who you are. Allah even knows better. Semoga jariah anda semua diganjari Allah dengan kebaikan yang berterusan. Dengan doa semua, urusan post mortem, sijil kematian dan pendaftaran kematian berjalan baik dan menepati janji coroner kepada saya. Urusan pengurusan jenazah, memandi dan mengkafankan diketuai oleh isteri saya. Solat jenazah di Whitechapel diimamkan oleh saya. Jenazah akhirnya dibawa ke Mas Cargo di Heathrow untuk persediaan penerbangan pada 17 Jun. Berdasarkan flight itinerary, tempoh transit 1 jam KLIA untuk ke Kota Bharu adalah terlalu singkat. Mas Kargo kebiasaannya memerlukan sekurang-kurangnya sejam setengah untuk menguruskan perpindahan jenazah ke kapal terbang antarabangsa ke domestik. Namun oleh kerana pihak waris mengharapkan agar jenazah dapat dikebumikan pada malam jumaat itu juga, saya memohon agar adanya keringanan diberikan. Alhamdulillah, sahabat sekolah saya semenjak tingkatan 1 hingga 5, Ely Arman, bertugas di Mas Kargo dan beliau serta rakan-rakannya membantu memudahkan urusan. Jutaan terima kasih diucapkan.
Al Marhumah adalah bonda yang amat lemah lembut, baik dan penyayang. Beliau sentiasa menyembunyikan kesusahan diri sendiri. Sepanjang 13 tahun menjadi anak menantunya, al marhumah merupakan ibu yang amat memahami dan menghormati anak-anak dan menantunya. Beliau juga amat aktif di kawasannya. Perjalanan sekitar 12 jam ke klia, ditambah dengan hampir sejam ke Kota Bharu, amat panjang dirasakan. kami dan jenazah disambut dengan lebih kurang dua puluh kenderaan di lapangan terbang Sultan Ismail Petra. Selepas sejam perjalanan berkereta, kami tiba di Machang. Kami sungguh terharu melihat ratusan yang hadir di perkarangan rumah. Solat jenazah dilaksanakan sebanyak tiga kali, kerana surau yang memang besar saiznya sememangnya ada di rumah tetapi tidak mampu menampung kesesakan muslimin dan muslimat yang hadir menziarahi. Even Hj Ali and wife, who was happen to be in Malaysia at that time, was there to help. I was even speechless to see three of my ex school mates, Anas, Hafidzul and Hashim, flew all the way from KL just to be at the funeral. Urusan pengkebumian selesai dengan selamat dan sempurna di tanah perkuburan Machang pada jam 10.30 malam, di mana dua lagi sesi solat jenazah diminta oleh sejumlah jemaah yang tidak sempat hadir di rumah.
On behalf on my family, I would like to dedicate our humble grateful and highest dedication to each and one of our big family in London and Malaysia for their termendous contribution along the process. Haji Zainal and family, Kasubi and family, Tuk Din and family, Dr. Noriati and family, abg Ishak and family, Harziman and family (Anis's cousin in Birm), jemaah surau MSD, fellow MSD staffs, Airul and our High Commission staffs, are just a few names representing so many great helper and assistance provider. Thanks to HE our High Commisioner and wife, who visited us personally at home.
Jika selama ini, sejak 2006, saya bertugas membantu dan menyelia urusan jenazah dan kematian warga Malaysia di UK, kali ini Allah mahukan saya untuk menguruskan jenazah bonda mertua sendiri, dan memasukkannya dalam senarai perkhidmatan saya. Allah Knows better and surely it is an honour for me and my wife to lead the funeral management for our beloved mother.
Seminggu bersamamu bonda adalah anugerah Allah buat kami sefamili. Allahummaghfir laha warhamha wa 'afiha wa' fu 'anha.

Friday, 3 July 2009

Khutbah Jumaat 140 - 03 Julai 2009

KHUTBAH JUMAAT 140 – 03 JULAI 2009

MUSLIMAH VEIL – WHAT’S WRONG WITH IT?

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah

Saya berpesan dan menasihati diri sendiri, serta berpesan dan menasihati muslimin, dengan gesaan untuk bertaqwa kepada Allah, melaksanakan perintahNYA, meninggalkan laranganNYA, memahami kerasionalan suruhanNYA, meneliti kerasionalan tegahanNYA, meyakini kebaikan arahanNYA, menginsafi keburukan yang ada pada perkara yang dihalangNYA. Kesemua ini mampu membawa kita menjadikan taqwa sebagai instrumen asas penggerak keutuhan karier selaku muslim.

My dear muslims

It is not something unexpected actually, to again be receiving such false and antagonist suggestion from the world regarding muslimah wear. Western leaders, criticisers, writers and even anybody who blocked themselves from finding the distinct information and clear rationale would sooner or later come out with this suggestion and accusation. So many Muslim Institutions in UK condemning the critics came from one of the European leaders concerning his intention to ban the wearing of hijab for muslims in his country. Whilst the number of muslims in Europe is statistically the biggest in the country, the suggestion raised could be based on the misplaced fear and intentionally ignorance of the unity of people around the world. Reiterating its long established position that individuals must have the freedom to choose their attire on the basis of deeply held religious beliefs, muslims in UK call upon him to desist from engaging in and promoting divisive politics towards its Muslim inhabitants. In this respect, let’s echoes the US President’s caution that it is important for Western countries to avoid impeding Muslim citizens from practising religion as they see fit - for instance, by dictating what clothes a Muslim woman should wear. He also mentioned that we cannot disguise hostility towards any religion behind the pretence of liberalism. Allah says in surah Al A’raf verse 26, "O children of Adam, we have provided you with garments to cover your bodies, as well as for luxury. But the best garment is the garment of righteousness. These are some of Allah’s signs, that they may take heed." Today we find not just the non muslims but the Muslim community as well still most divided on one subject, the veil or hijab. Despite the clear rulings of Shariah on this subject, many people claim that the order for women to cover all but their faces and hands is not found in Islam. Let’s have a look at the obligation of Hijab as Stated in Qur'an. In surah al Ahzab verse 59, "O Prophet! Tell your wives and daughters and the women of the believers to draw their cloaks (jalabib) close round them (when they go abroad)..." Ibn Rushd in Bidayah al-Mujtahid said that this verse has been adduced as proof that no part of a woman's body should be evident to those who are not among the prohibited degrees of relationship (mahram) or her husband. Al-Qurtubi in his commentary on the verse said that the jilbab is the cloak that conceals all of the body including the head. As many would already knew, in Surah An Nur verse 31, "And tell the believing women to lower their gaze and be modest, and to display of their adornment only that which is apparent, and to draw their veils over their bosoms..." The phrase ‘only that which is apparent’ applies to women’s face and hands. Again in surah Al Ahzab verse 53, "... And when you ask of them (the wives of the Prophet) anything, ask it of them from behind a veil. . ." Al-Qurtubi said in commentary of this verse: "The consensus of Muslims is that the genitals and backside constitute nakedness for men and women, as well as all of woman except her face and hands, but some disagreed about the latter two." This means the consensus of Muslims included them in the definition of her nakedness based on verse 59 in surah al Ahzab. The Obligation of Hijab also as clearly stated in many authentic Hadith or traditional reports. Narrated by Abu Daud, "Aishah (r) reported that Asma’ the daughter of Abu Bakr (r) came to the Messenger of Allah (s) while wearing thin clothing. He approached her and said: 'O Asma’! When a girl reaches the menstrual age, it is not proper that anything should remain exposed except this and this. He pointed to the face and hands." Ibn Qudama in al-Mughni explained that showing the face and hands are a specific dispensation within the general meaning of the hadith "All of the woman’s body is considered her nakedness (to those outside the mahram relationship or her husband)." In another occasion, “Aishah (r) said: "I used to enter the room where the Messenger of Allah (s) and my father (Abu Bakr) were later buried in without having my garment on me, saying it is only my husband and my father. But when 'Umar ibn Al-Khattab (r) was later buried in (the same place), I did not enter the room except that I had my garment on being shy from 'Umar." The Prophet's specification to Umm Salamah that women should also cover their feet in prayer, narrated in the Sunan. This included the feet into the definition of her legal nakedness. "Women who are clothed but (at the same time) naked , turning their heads sideways this way and that like the humps of the camel, shall never enter Paradise nor even smell its fragrance." Aishah’s (ra) strictness on the question is a well known saying, “innama al-khimaru ma wara al-sha`r wa al-bashar” which means " A woman's covering (al-khimar) is defined by Aishah as "nothing short of what covers both the hair and skin." Also, Aishah said: "By Allah, I never saw any women better than the women of the Ansar or stronger in their confirmation of Allah's Book! When Surah al-Nur verse 31 was revealed "and to draw their 'khumur' over their bosoms" ,their men went back to them reciting to them what Allah had revealed to them, each man reciting it to his wife, daughter, sister, and relative. Not one woman among them remained except she got up on the spot, tore up her waist-wrap and covered herself from head-to-toe with it. They prayed the very next dawn prayer covered from head to toe."

Muslimin yang dikasihi

Amat banyak hadith yang memperhalusi kewajipan menutup aurat. Antaranya, Dalam hadis Rasulullah s.a.w riwayat Muslim : "Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak bonggol unta. Mereka itu tidak masuk syurga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau syurga itu boleh tercium dari jarak sekian dan sekian." Imam An Nawawi dalam penerangannya menjelaskan bahawa wanita yang berpakaian tetapi seperti telanjang tersebut adalah wanita yang berpakaian dengan menutupi sebahagian badannya dan membiarkan terbuka sebahagian yang lain, atau wanita yang berpakaian tipis sehingga terlihat warna kulit dan bentuk tubuhnya. Berbicara mengenai pengertian, Istilah aurat diambil dari perkataan bahasa Arab 'Aurah' yang bererti keaiban. Manakala dalam istilah fiqh pula aurat diertikan sebagai bahagian tubuh badan seseorang yang wajib ditutup atau dilindungi dari pandangan yang bukan mahram. Ianya bukan arahan penghalang liberalisasi dan kebebasan menjalani kehidupan. Juga bukan penegah komunikasi dan penyempit ruang keperluan. Perintah menutup aurat ini adalah hasil dari keteguh yakinan agama dan pautan jitu syahadah yang termeteri dengan pengakuan lisan dan pengiktirafan dengan hati terhadap kebenaran agama Islam. Ia adalah hubungan suci yang terjalin antara hamba dengan Penciptanya atau agama yang dianutinya. Ia lambang penyerahan diri dan persetujuan terhadap perintah Allah. Dalam masa yang sama ia juga adalah tuntutan ibadah dan syariat Islam yang menjadi sebahagian dari anutan, amalan dan penghayatan agama. Ia bukan simbol yang tidak memberikan apa-apa fungsi apatah lagi untuk menandakan atau menunjuk-nunjuk secara provokasi keangkuhan beragama atau pengawalan total lelaki ke atas wanita. Islam tidak pernah mengajar manusia untuk bersikap angkuh dengan pakaian. Ianya diperintahkan untuk wanita, untuk kebaikan dan maslahat wanita itu sendiri. Untuk kemuliaan, penghormatan dan keselamatan ahli keluarga wanita itu sendiri. Untuk masyarakat, bangsa dan dunia seluruhnya hidup dengan jaminan ketenangan dan kebenaran. Pemakaian tudung atau pakaian yang menutup aurat adalah semata-mata kerana memenuhi tuntutan agama Islam yang suci. Di antara dalil yang menunjukkan kewajipan memelihara dan memuliakan aurat bagi wanita muslimah ialah dalam surah An-Nur ayat 31, "Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumurnya (tudung) ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau anak-anak mereka, atau anak-anak suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau anak-anak saudara laki-laki mereka, atau anak-anak saudara-saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau hamba abdi yang mereka miliki, atau pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita." Kejelasan penegasan perkara pokok dan utama dalam gugusan ayat ini ialah perintah untuk menahan pandangan dari yang diharamkan oleh Allah, perintah untuk menjaga kemaluan dari perbuatan yang haram, larangan untuk menampakkan perhiasan kecuali yang biasa kelihatan umum serta perintah untuk menutup khumur (Khumur adalah bentuk jamak dari khimar yang bererti kain penutup kepala atau tudung) ke dada. Ini menunjukkan bahawa kepala dan dada adalah juga termasuk aurat yang harus ditutup. Dengan kata lain, tidak cukup hanya dengan menutupkan tudung pada kepala saja dan hujungnya diikat atau disingkatkan. Bahkan, hujung tudung tersebut harus dibiarkan terjuntai menutupi dada. Dari penafsiran para sahabat dan para ulama dalam mendifiniskan situasi ini, jelas memberikan indikator bahawa yang boleh tampak dari tubuh seorang wanita adalah wajah dan kedua telapak tangan. Selebihnya hanyalah pakaian luarnya saja. Begitu juga menerusi surah al Ahzab ayat 59, "Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang-orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka'. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh kerananya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Sebelum kita memberi respons kemarahan atau bantahan kepada saranan daripada barat untuk memberhentikan pemakaian tudung kepala bagi wanita Islam, amat cocok andainya umat Islam dan wanita Islam sendiri memahami sejelasnya berkenaan pengertian jilbab. Menurut Ibnu Arabi, jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh badan dari kepala hingga mata kaki. Oleh itu, jilbab bercirikan, pakaian yang menutupi badan langsung dari atas sampai ke bawah, pakaian yang lebih lebar dari tudung, dan pakaian luar wanita seperti jubah atau gamis (baju panjang). Ayat ini menjelaskan pada kita bahawa menutup seluruh tubuh adalah kewajiban setiap wanita muslimah dan merupakan tanda keimanan mereka. Menutup aurat adalah salah satu dari kewajiban yang telah ditetapkan bagi muslimah. Dalam keadaan dunia yang saban hari melihat kejatuhan negara-negara, bangsa dan budaya, runtuh satu demi satu dengan budaya porno, serba merangsang perkara negatif, seks bebas, penindasan, sikap tidak bertoleransi dan kehilangan disiplin kendiri yang dijana oleh persekitaran sosial yang mewabak, amat beruntunglah bagi mereka yang menghalusi dan mengimani pernyataan Allah dalam surah An Nur ayat 31, "Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya; dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka, atau anak-anak mereka, atau bapa mertua mereka, atau anak-anak mereka, atau anak-anak tiri mereka, atau saudara-saudara mereka, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang lelaki, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang perempuan, atau perempuan-perempuan Islam, atau hamba-hamba mereka, atau orang gaji dari orang-orang lelaki yang telah tua dan tidak berkeinginan kepada perempuan, atau kanak-kanak yang belum mengerti lagi tentang aurat perempuan; dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dariperhiasan mereka; dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu berjaya." Jika benar barat dan pemimpinnya ingin mewar-war dan mencanangkan integrasi, harmoni dan kesatuan dunia, maka dasar integrasi dalam mana mana negara sekalipun mesti mengambil kira perkembangan kesedaran dan nilai-nilai sosial yang lebih sihat, selamat dan murni serta jitu. Budaya menggalakkan dialog, berfikir yang bebas, demokrasi dan positif perlu bermula dengan pengetahuan, pemahaman dan akhirnya penghormatan terhadap agama, budaya, bangsa, bahasa dan kepimpinan. Atas segalanya, mimbar mencadangkan agar pemikir, penulis, pemerhati, pengkaji malah pemimpin dunia barat untuk menerapkan pemikiran lebih seimbang dan objektif, perkongsian nilai agama dan budaya yang lebih tulus, serta tidak berat sebelah dalam melihat isu tudung dan pakaian yang menutup aurat ini. Jaminan kebebasan manusia untuk beragama perlu dipertahankan, Negara tidak akan runtuh hanya kerana kaum wanitanya menutup aurat atau bertudung. Kewajiban menutup aurat menurut Islam ini tidak hanya berlaku pada saat menunaikan solat semata-mata, malah pada semua tempat, masa, ketika dan suasana. Kebijaksanaan Allah dalam mewajibkan kebaikan cukup jelas dan tidak dapat ditolak oleh akal yang melihat agama sebagai suatu keburukan dan penghalang tugasan dan kehidupan.

Barakallahu li walakum

Mohd Erfino Johari

erfino@masduke.net




Saturday, 27 June 2009

Khutbah Jumaat 139 - 26 Jun 2009

KHUTBAH JUMAAT 139 – 26 JUN 2009

KOMUNIKASI AL QURAN DAN PEMBACANYA

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah

Saya menasihati diri sendiri, dan menasihati sekalian hadirin jumaat, dengan gesaan dan pesanan untuk bertaqwa kepada Allah. Taqwa ialah gelaran yang didambakan oleh setiap insan yang beriman, kerana ianya merupakan gelaran yang terbaik, tertinggi dan kekal abadi apabila ianya dikurniakan oleh Allah. Majlis penganugerahannya merupakan majlis gilang gemilang diakhirat sana, yang diraikan tidak berpenghujung dengan nikamt yang tidak berkesudahan.

Sidang Jumaat yang dikasihi

Al Quran kerap memaparkan rakaman peristiwa dan susunan berlaku sesuatu keadaan dan perkara. Isi kandungan yang tersusun sebegini bermatlamatkan agar manusia dan pembacanya, dapat mengaut isi penting dan memahami peristiwa yang dikisahkan tanpa ada sebarang sekatan, pemotongan dan penangguhan. Ianya juga berhasratkan pemudahcara bagi pembacanya memahami jalan cerita, dan seterusnya menghayati isi ceritanya. Dalam masa yang sama, ianya mengukur dan menguji kemampuan dan keupayaan pembacanya dalam menatijahkan kebenaran dan kesedaran terhadap apa yang dibaca dan diikuti. Atas semua ini, isi berangkai atau turutan sesuatu peristiwa yang dinyatakan dalam al Quran berfungsi sebagai jawapan pada pelbagai persoalan, tanggapan dan maklumat yang diingini. Al Quran ini sifatnya, berkomunikasi dengan golongan pemilik akal fikiran dan kaum yang mampu mencari dan menyenaraikan sebab dan hujjah bagi pegangan dan keyakinan. Dalam komunikasi sebegini, matlamatnya ialah untuk memastikan pembacanya berada di jalan yang lurus, dan terselamat dari kesesatan. Di antara yang boleh diperhatikan ialah firman Allah dalam surah ali Imran ayat 195, ‘ Maka Tuhan mereka memperkenankan doa mereka (dengan firmanNYA); Sesungguhnya Aku tidak akan sia-siakan amalan orang-orang yang melaksanakan amalan baik dari kalangan kamu, samada lelaki atau perempuan, (kerana) sesetengah dikalangan kamu (adalah keturunan) daripada sesetengah yang lain; maka orang-orang yang berhijrah (kerana menyelamatkan agamanya) dan yang diusir keluar dari tempat tinggalnya dan juga yang disakiti (dengan berbagai-bagai gangguan) kerana menjalankan agamaKU dan yang berperang (untuk mempertahankan Islam) dan yang terbunuh(gugur syahid dalam peperangan sabil) – sesungguhnya Aku akan masukkan mereka ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai , sebagai pahala dari sisi Allah, dan di sisi Allah jualah pahala yang sebaik-baiknya (bagi mereka yang beramal soleh)’.

Muslimin rahimakumullah

Maka kita perhatikan turutan dan rangkaian ayat-ayat ini. Pertamanya, Allah menyatakan keutamaan dan keperluan beramal antara lelaki dengan wanita, keduanya ialah apabila golongan muslimin merasai penderitaan dan tekanan lalu berhijrah ke Madinah. Ketiga, balasan azab dan kesukaran bagi mereka yang kekal dalam agamanya dan tidak berhijrah serta berganjak, namun akhirnya terpaksa juga keluar meninggalkannya. Keempat, mereka itu diburu dan dijadikan sasaran musuh Allah hanya semata-mata kerana keimanan mereka. Kelima, mereka berjuang dengan melawan musuh dan mempertahankan diri mereka daripada musuh yang telah memberikan penindasan, penghinaan dan tekanan kepada kehidupan mereka. Seterusnya, mereka dibunuh dan gugur selaku pejuang dan syahid dalam pertempuran. Pada peringkat ketujuh, Allah menyatakan bahawa golongan yang berhijrah dan berjuang ini diampunkan dosa-dosa mereka yang terdahulu dan disahkan sebagai ahli penghuni syurga. Pada akhir peristiwa dan turutan ini, Allah menyatakan jaminannya bahawa mereka yang melalui proses ini, iaitu baik lelaki dan wanita, yang beriman, kemudian berhijrah, kemudian disiksa dan dianiaya, kemudian mereka mempertahankan diri dan berjuang dijalanNYA, kemudian mereka terbunhu dan gugur syahid, maka mereka diampunkan dosa yang telah lalu dan dimasukkan ke dalam syurga kekal abadi selamanya. Kronologi dan diari muslimin ini merupakan penyata yang jelas menggambarkan betapa, Allah tidak mensia-siakan amalan mana-mana hambaNYA. Besar atau kecil, ianya merupakan sesuatu yang diperhati, diawasi dan diganjari Allah. Seterusnya pula, kesungguhan apabila iman diuji, keyakinan kepada Allah diduga dan kesukaran dalam menegakkan kebenaran dan kalimah Ilahi di muka bumi, tiadalah ganjaran yang paling layak untuk diberikan selain syurga yang penuh dengan segala kenikmatan. Contoh yang sama dibawakan Allah dalam surah at Taubah ayat 111, ‘ Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman akan jiwa mereka dan harta benda mereka dengan (balasan atau pulangan) bahawa mereka akan beroleh syurga, (disebabkan mereka berjuang pada jalan Allah maka (di antara) mereka ada yang berjuang menang dan yang gugur dalam perjuangan itu. (Balasan syurga yang demikian adalah) sebagai janji yang benar yang ditetapkan oleh Allah di dalam (Kitab-kitab) Taurat dan Injil serta al Quran dan siapakah lagi yang lebih menyempurnakan janjinya daripada Allah? Oleh itu, bergembiralah dengan jualan yang kamu jalankan jual belinya itu dan (ketahuilah bahawa) jual beli (yang seperti itu) ialah sebenarnya kemenangan yang besar.

Sidang Jumaat yang dimuliakan Allah

Akal fikiran manusia diajak dalam ayat ini untuk memahami langkah dan turutan peristiwa yang akhirnya memberikan kemenangan kepada hamba Allah. Pertamanya ialah, hamba Allah yang sanggup menjualkan nyawa dan jiwanya atas nama Allah, kerana kebenaran, dan berpaksikan keyakinan Keesaan dan Kekuasaan Allah. Keduanya, mereka turut mengorbankan harta benda yang dianggap sebagai transaksi perniagaan dengan allah, kerana mereka memaklumi bahawa harta dan kemewahan itu datangnya dari Allah, ianya merupakan pinjaman dan perlu dilunaskan mengikut haknya. Ketiga, mereka bersungguh dalam menmpatkan diri untuk berjuang di jalan Allah, lantaran kesanggupan berkorban sebegini didasari oleh keyakinan bahawa Allah memiliki segala-galanya, memiliki diri, jiwa dan harta benda mereka. Keempat ialah zaman dan masa di mana mereka berada dalam proses berjuang membunuh musuh Allah, atau terbunuh kerananya dijalan Allah. Kelima, Janji Allah untuk memberikan kemenangan ini relevan dan sah laku semenjak zaman berzaman. Ianya terwarid dalam taurat, tertulis dalam Injil dan terserlah menerusi al Quran. Janji itu adalah sama, bagi mereka yang berjuang di jalan Allah. Setiap pejuang dimana-mana zaman diberikan keutamaan, kelayakan dan ganjaran dari Allah. Akhirnya sebagai kesimpulan, perniagaan dan transaksi jual beli yang sebegini, yang akan membuahkan kejayaan sejati dan kemenangan paling besar, sebagai kurniaan Allah kepada orang-orang yang beriman, yang meyakini bahawa perjuangan menegakkan Islam dan perjuangan menyerlahkan jati diri selaku muslim di dunia ini adalah berbaloi, dan tepat serta diganjari dengan kejayaan dan kemenangan yang tidak ternilai.

Barakallahu li walakum

Mohd Erfino Johari

erfino@masduke.net

Saturday, 20 June 2009

Khutbah Jumaat 138 - 19 Jun 2009

KHUTBAH JUMAAT 138 – 19 JUN 2009

MINDA AL WAQI’AH

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah

Saya berpesan kepada diri sendiri dan semua muslimin, dengan pesanan bertaqwa dan terus-menerus mempertingkatkan ketaqwaan kepada Allah. Setiap langkah dalam kehidupan, perlu dijuruskan kepada pelaksanaan tanggungjawab selaku muslim, mengagungkan Ilahi dan menjadikan pemerhatianNYA dan pengawasanNYA kekal dan tekal dalam ingatan, minda dan hati setiap masa.

Sidang Jumaat yang dikasihi

Mari kita telusuri, betapa al Quran yang berada di telapak tangan kita, dan di sekeliling kita, membuka ruang akal manusia untuk menghayati keagungan Allah menerusi kumpulan soalan-soalan utama. Soalan ini tidak memerlukan jawapan secara lisan, namun ianya dijawab dengan kehadiran hati, kesedaran tadabbur, kejelasan tafakkur dan ketepatan perhitungan minda hamba kepada penciptanya. Pertamanya menerusi surah al Waqi’ah ayat 58 hingga 62, ‘ (Mengapakah kamu masih berdegil?) Tidakkah kamu memikirkan keadaan air mani yang kamu pancarkan (ke dalam rahim)? Adakah kamu yang menciptakannya atau Kami yang menciptakannya? Kamilah yang menetukan (dan menetapkan masa) kematian (tiap-tiap seorang) diantara kamu dan Kami tidak sekali-kali dapat dikalahkan atau dilemahkan. (Bahkan Kami Berkuasa) menggantikan (kamu dengan) orang-orang yang serupa kamu (tetapi tidak seperti keadaan kamu) dan berkuasa menciptakan kamu dalam bentuk kejadian yang kamu tidak mengetahuinya. Dan demi sesungguhnya, kamu telah sedia mengetahui tentang ciptaan diri kamu kali pertama, maka ada baiknya kalau kamu mengambil peringatan (bahawa Allah yang telah menciptakan kamu daripada tiada kepada ada, berkuasa membangkitkan kamu hidup semula pada hari akhirat kelak)’. Keduanya menerusi surah yang sama, pada ayat 63 hingga 67, ‘ Maka (mengapa kamu masih berdegil?) Tidakkah kamu melihat apa yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkannya. Kalau Kami kehendaki, sudah tentu Kami akan jadikan tanaman itu kering hancur (sebelum ia berbuah), maka dengan itu, tinggallah kamu dalam keadaan hairan dan menyesal. (Sambil berkata) Sesungguhnya kami menanggung kerugian. Bahkan kami hampa (dari mendapat sebarang balasan)’. Pada peringkat ketiga, Allah meneruskan bicaranya dengan menduga akal dan menguji minda pada kumpulan ayat 68 hingga 70 dalam surah yang sama, ‘ Selain dari itu, tidakkah kamu melihat air yang kamu minum?. Kamukah yang menurunkannya dari awan (sebagai hujan) atau Kami yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, Kami akan jadikan ia masin, maka ada baiknya andai kamu bersyukur (dengan kurniaan air)’. Akhirnya pada kumpulan ayat 71 hingga 74, Allah berbicara dalam surah yang sama, ‘ Akhirnya tidakkah kamu melihat api yang kamu nyalakan (dengan cara digesek?). Kamukah yang menumbuhkan pokok kayunya atau Kami yang menumbuhkannya?. Kami jadikan api (yang tercetus dari kayu basah) itu sebagai peringatan (bagi orang-orang yang lalaikan kebenaran hari akhirat) dan sebagai benda yang memberi kesenagan kepada orang-orang musafir. Oleh yang demikian (wahai orang yang lalai) bertasbihlah dengan memuji nama Tuhanmu Yang Maha Besar (sebagai bersyukur atas segala nikmat itu)’.

Sidang muslimin rahimakumullah

Bicara Allah pada hati dan akal manusia pertamanya ialah untuk memikirkan kejadian manusia itu sendiri. Ianya merupakan asas kukuh bagui menjadikan manusia menyedari bahawa kehidupannya itu bermatlamat, proses kelahirannya bersyarat, iaitu untuk mengakui kebesaran Allah dan mengikuti perintahNYA serta menjauhi laranganNYA. Manusia disaran untuk memikirkan kehebatan Allah dalam penciptaan dan kelahiran manusia. Akal fikiran dapat dipacu pandu ke arah meyakini keagungan dan keperkasaan Allah. Dalam masa yang sama, kehidupan yang bermula dengan kelahiran itu adalah suci, dan sepanjang kehidupan itulah akan dicorakkan warnanya, samda mengikut akal minda hamba hakiki dan akal budi hamba sejati, atau menyimpang dan tersasar dari landasan sebenar dan asli. Allah seterusnya berbicara tentang perkara yang manusia hasilkan, usahakan dan perjuangkan dalam kehidupan. Tanaman dijadikan sebagai perlambangan untuk manusia memahami dan menyedari bahawa, proses yang panjang ini, hanya Allah yang menentukan hasilnya. Kesungguhan dan ketekunan kerja ini, hanya Allah yang berhak menetapkan output terakhirnya. Dalam proses mencapai kejayaan dalan usahanya, manusia perlu terus menerus tanpa jemu untuk bersungguh-sungguh dan memohon kepada Allah agar dipermudahkan urusan dan dipastikan kejayaan. Seterusnya, air dan api dijadikan sebagai instrumen pengujian minda manusia, agar dapat dibawa untuk merasai kewujudan Allah dan menyakini kekuasaanNYA. Manusia mengguna dan memerlukan kedua-duanya dalam kehidupan seharian. Manusia akan merasakan kepincangan andai salah satu atau kedua-duanya tergugat, baik dari sudut sumbernya, penggunaannya dan pengawalannya. Kehidupan ini dijadikan Allah sebagai ruang untuk manusia berfikir sebelum bertindak, bersungguh sebelum berharap, berjuang sebelum gemilang, dan berbakti sebelum diganjari. Pengurusan hidup seharusnya berpaksikan al Waqi’ah, iaitu ketetapan tentang berlakunya hari akhirat, wujudnya pelaksanaan balasan dan ganjaran, adanya kehidupan selepas kematian, konsep kekekalan dan keabadian kehidupan, konsep kematian yang menjadi jambatan serta amalan dan persembahan hamba kepada Tuhan. Soalan-soalan ini adalah tazkirah, peringatan, gesaan beramal, suruhan berfikir, arahan bertadabbur dan panggilan ke jalan yang sebenar. Pembaca al Quran yang dibekalkan peluang untuk menghalusi persoalan sebegini semestinya memberikan respons yang positif, dengan perencanaan dan perancangan kehidupan yang tepat, pelaksanaan dan pencapaian objektif yang dinamik, serta kesungguhan tidak bertepi untuk menggapai output yang tertinggi. Bersamalah kita berusaha untuk menjadi hamba yang bertaqwa kepada Allah pada segenap ruang kehidupan pinjaman ini. Sesungguhnya penyembah Allah, hamba yang taat padaNYA, tidak akan kerugian dalam apa jua perkara.

Barakallahu li walakum

Mohd Erfino Johari

erfino@masduke.net

Friday, 19 June 2009

Notification

Assalamualaikum

Dear all,

Regrettably notifying all Malaysian students and researchers, that these activities have to be postponed, due to unexpected matters. Allow me to thank each and one of you in advance, for your understanding and consideration:

1. Seminar on Islamic Leadership SIL09, MSD - 26th - 28th June 09
2. Funeral Management Course, MSD - 4th July 09
3. Umrah and Hajj Course, MSD - 5th July 09

Regards

Mohd Erfino Johari

Saturday, 13 June 2009

Forum with Malaysians at Hull, Humberside






13 Jun 2009 - I took the 1.35 pm train from York to Hull, and arrived at Hull Station one hour later. There, I was greeted by Khairul Ariffin, who then drove me to the event venue at North Hull Community Centre. I was invited by Saifuddin, Hull Penghulu, to team up with Dr. Farid Shahran, for the 'Wacana Taadib Islami' forum. It was co organize by MISG Abim and Malaysian students and researchers at University of Hull. The event went great and attended by Malaysians at Hull, and Leeds. Ustaz Hasri chaired the forum which lasted one and a half hour. Thanks for the warmth welcome and I'll be surely grateful to receive another invitation from Hull again in the future. I was thinking to have an overnight at Hull, but I somehow choosed to take the train back to London and classified it as a day trip. Thanks to all my friends at Hull and till we meet again.

My visit to Univ. of York, North Yorkshire


13 Jun 2009 - Since I've got the invitation to deliver a talk at Hull, I was thinking that it would be great should I can add York in my list of itinerary for the day as well. Contacting my friend Shahar, made the journey easier. Shahar, whose wife is doing doctorate studies at Univ. of York, was last year York's community Penghulu. I took the early morning train from London Kings Cross Station, and arrived at York Station at 10 am. The visit took place at his house, attended by our undergraduates as well. Their exams are due to start in a week time. As there's no specific agenda, the meeting flowed with greetings and various topics. The objective of the visit was to greet our students and get the first hand info on their latest progress, and I believed that I've achieved that. It's good to know that they're doing well. Thanks to Syauqi, Maisarah and others for dedicating their time for me. Thanks to Shahar and wife for the hospitality given, and not forgetting, the special pulut ikan masin for the brunch.

Friday, 12 June 2009

Welcome to Islam

12 June 2009 - It is our pleasure to greet our new muslimah sister, Cheryl Gibbons at our office today. She's a Scottish and came to see me with the intention to embrace Islam. I met her twice before this and she reminded me that I did give her a book Islam as the way of life. I've been informed that she's been traveling to so many countries, learning and experiencing the diversity of cultures, languages and way of life. Malaysia is just one of so many Asian countries that she has been too. Praise be to Allah who gave her the light of guidance and she's now a muslimah. Thanks to Mustakeem and Haji Zainal for witnessing the declaration. Welcome to Islam Cheryl and may Allah bless us all.

Khutbah Jumaat 136 - 12 Jun 2009

KHUTBAH JUMAAT 137 – 11 JUN 2009

BERSEGERA MENERIMA UNDANGAN KEAMPUNAN ALLAH

Sidang Jumaat yang dimuliakan Allah

Bertaqwalah kepada Allah pada setiap masa, ketika dan suasana. Bertaqwalah kepada Allah yang menjadikan kita dan yang akan mematikan kita, serta menghidupkan kita semula, bagi menerima ganjaran mahupun pembalasan. Attain taqwa and God fearing, as it is the pride of humanity, the responsibility of all muslims and the distinguished level of human being. Let us appreciate this life, given by Allah, as the right platform to appreciate and understand Allah’s commands. It is the duty for the whole life of us, and let’s hope that time, situation, self interest, wealth and opportunity will not caused us to forget the truth.

Muslimin yang dirahmati Allah

Menggeruni amaran Allah dalam al Quran merupakan sifat orang yang beriman. Menghayati dan menginsafi peringatan Allah dalam al Quran merupakan ciri orang yang bertaqwa. Lantaran itu diperhatikan, banyak ruang menerusi ayat-ayat wahyu Ilahi ini yang berwarna celaan sifatnya, berbau penghinaan situasinya, dan ditujukan pada hamba Allah yang engkar dan kufur kepadaNYA. Kekerasan sifat sebahagian ayat adalah bermatlamatkan penekanan dan penegasan kepada mereka yang derhaka untuk kembali ke jalan Allah sebelum terlambat. Ianya juga untuk memperingatkan mereka yang lain agar tidak terjebak dalam perlakuan buruk yang sama, di samping menyatakan balasan buruk yang bakal menimpa mereka yang engkar dan tegar. Gaya bahasa sebegini dipaparkan dalam al Quran, pada ketika selepas manusia atau sesuatu kaum diberikan peringatan, diperuntukkan masa secukupnya untuk berubah, namun tetap angkuh dan sombong. Maka mereka ketika itu layak untuk menerima pulangan pembalasan dari Allah. Antaranya ialah keengkaran golongan Yahudi dalam surah al Baqarah petikan ayat ayat 87 hingga 89, ‘ Maka wajarkah, apabila setiap kali datang kepada kamu seorang Rasul membawa sesuatu (kebenaran) yang tidak disukai oleh hawa nafsu kamu, kamu (dengan) sombong takbur (menolaknya), sehingga sebahagian dari rasul itu kamu dustakan dan sebahagian yang lain pula kamu membunuhnya?. Dan mereka (Yahudi) pula berkata; Hati kami tertutup (yakni tidak dapat menerima Islam). (Sebenarnya hati mereka tidak tertutup) Bahkan Allah telah melaknat mereka disebabkan kekufuran mereka. Oleh itu maka sedikit benar di kalangan mereka yang beriman. Setelah datang kepada mereka apa yang sedia mengetahui kebenarannya (yakni berkenaan Nabi Muhammad dan al Quran), mereka mengingkarinya. Maka (dengan yang demikian), laknat Allah menimpa orang-orang kufur tersebut’. Pernyataan ini memaparkan penghinaan dan kecaman Allah pada mereka yang berhak menerimanya. Ianya adalah ketidak percayaan terhadap sifat mereka yang angkuh menolak, walaupun ramai nabi dan rasul telah diutuskan kepada mereka. Bila diajak kepada Islam, mereka menyatakan bahawa mereka hanya beriman dengan taurat. Allah menempelak mereka dalam surah yang sama, pada ayat ke 91 ‘ Katakanlah (Wahai Muhammad) Jika demikian, mengapa kamu membunuh nabi-nabi Allah pada masa yang lalu kalaulah kamu benar-benar orang yang beriman?’. Pengajaran buat kita ialah kebenaran adalah kebenaran dan kebatilan tetap kebatilan. Di mana sahaja kita berada, kita tidak mampu untuk beralasan ketidak mampuan untuk melaksanakan perintah Allah, apatah lagi tidak mampu meninggalkan larangan Allah. Al Quran ini dilaksana, dan bukan sekadar dibaca. Agama ini dipraktikkan dan bukan sekadar pemahaman teori. Akhlak Islam itu diserlah dan dipertontonkan, dan bukan disimpan di rumah atau di masjid. Keimanan dizahirkan dengan perlambangan Islam dan perlakuannya. Sesungguhnya kita amat risau seandainya, kita turut terkena bahang kemurkaan Allah ke atas golongan Yahudi pada ayat sebentar tadi, bahawa dakwaan mereka memiliki taurat sudah memadai dan tidak perlu mengakui kehadiran perutusan Rasulullah. Samalah seperti keadaan di mana orang menyatakan bahawa di rumahnya ada al Quran, di dinding rumahnya tertampal ayat al Quran, ibu bapanya muslim, jirannya muslim, namun keislaman dan keindahan beragama itu tiada pada dirinya.

My dear muslims

We do cherish invitations. We appreciate people who invite us to any occasions. We honoured the invitation by proper dressing and great appearance, good conduct as well as well mannered during the event. Allah’s invitation is to enjoining goods and forbidding evil. The example set by our Prophet Muhammad is complete and awaiting to be put into practical line. Sunnah literally means a conduct and a good path to be followed. In one hadith narrated by Muslim and Ibn Majah, ‘ Those who establish a good path in Islam receive the reward of those who follow it, without any decrease in their reward. Those who establish an evil path in islam are burdened with the sins of those who follow it, without any decrease in their burden’. Obedience to Allah means unconditional obedience to what has been revealed in the Quran. Obedience to the Messenger means following his way of life as closely as possible by obeying what is enjoined and prohibited in the Quran and by Prophet Muhammad. Let’s reflect on the occasion of Tabuk battle, when the hypocrites excused themselves to join the march by saying that it’s better for them not to get out of Madinah and stay inside, means not taking part in the battle. The reason given by them is unaccepted as stated in surah at Taubah verse 81 and 82, ‘ Those who stayed away (from Tabuk expedition) rejoined in their staying behind the Messenger of Allah; they hated to strive and fight with with their properties and their lives in the cause of Allah, and they said; Don’t go and march in the heat. Say (O Muhammad) the fire of Hell is more intense in heat, if only they could understand. So let them laugh a little and (they will) cry as much as a recompense of what they used to earn (by committing sins)’. Let’s pick up the lesson from these verses, by not giving simple and tiny excuses in performing acts of worships. In this case, the hypocrites used the hot weather as an excuse for them not to fight in the cause of Allah. These days, we find so many people using lists of excuses in order to avoid what Allah has clearly ordained them to do. The examples are actually in and around us and it’s about time for us to change the situation.

Sidang muslimin yang berbahagia

Allah mengecam hamba-hamabNYA yang hanya mengingati Allah dan merayu kepadaNYA secara bermusim, bersyarat dan bersebab yang tertentu. Antaranya, peringatan Allah untuk tidak mencariNYA hanya disaat kesusahan dan apabila ditimpa musibah. Ianya dianggap sebagai amalan yang melampaui batas dan tidak memberi keadilan kepada diri sendiri. Ini dijelaskan dalam surah Yunus ayat 12, ‘ Dan apabila seseorang manusia ditimpa kesusahan, mulalah ia merayu kepada Kami (dalam segala keadaan), samada sedang berbaring atau duduk ataupun berdiri dan manakala Kami hapuskan kesusahan itu daripadanya, dia terus membawa cara lamanya seolah-olah dia tidak pernah merayu kepada Kami, memohon dihapuskan sebarang kesusahan yang menimpanya (sebagaimana dia memandang eloknya keadaan itu) demikianlah diperelokkan pada pandangan orang-orang yang melampau dalam apa yang mereka lakukan’. Tatkala Firaun kegerunan diragut nafasnya satu persatu oleh laut dengan izin Allah, beliau baru mula cuba untuk menuturkan pengakuan keesaan Allah. Allah menolak dan mengecamnya dengan menyatakan mengapa sekarang baru ingin bertaubat, malah tubuhnya diselamatkan (selepas kematiannya) agar ianya menjadi peringatan bagi mereka yang menangguhkan hati, diri dan hidupnya untuk kembali kepada Allah. Dalam surah Yunus ayat 91 dan 92, ‘ Adakah sekarang baru kamu hendak beriman? Padahal sesungguhnya engkau dari dulu lagi telah kufur derhaka dan engkau telahpun sememangnya melakukan kerosakan?. Maka pada hari ini, Kami (Allah) biarkan engkau (Wahai Firaun) terlepas dengan badanmu (yang tidak bernyawa, daripada ditelan laut), untuk menjadi tanda bagi orang-orang selepasmu (supaya mereka mengambil iktibar). Dan (ingatlah) sesungguhnya kebanyakan manusia lalai daripada (memerhati dan memikirkan) tanda-tanda kekuasaan Kami (Allah)’.

Barakallahu li walakum

Mohd Erfino Johari

erfino@masduke.net